Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib shalat Jumat Tehran, menilai ekonomi muqawama telah menetralisir semua sanksi unileteral Barat terhadap Republik Islam.
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami dalam khotbah Jumatnya (28/2) menyatakan, "Ekonomi muqawama (resistensi) merupakan satu langkah menuju independensi total perekonomian Iran dari pihak asing."
"Ekonomi muqawama bersandarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi dalam negeri, keadilan, berorientasi prinsip dan terbuka, pengandalan jutaan tenaga ahli di Iran, penyediaan infrastruktur, serta modal besar minyak dan gas."
Menyinggung gelombang islamphobia dan anti-Islam di dunia yang digalakkan kaum imperialis, Ayatullah Khatami mengatakan, "Faktornya adalah karena gerakan kebangkitan Islam sedang meluas."
Khatib shalat Jumat Tehran menilai Islam murni, muncul sebagai sebuah kekuatan besar dalam melawan imperialisme dan zionisme. "Islam tersebut berpangkalan di Iran dan oleh karena itu mereka mengkhawatirkan Iran," tuturnya.
Ayatullah Khatami menyebut rezim Zionis sebagai musuh paling dibenci umat Islam seraya mengatakan, "Makna kunjungan para pejabat Amerika Serikat dan Jerman ke Palestina pendudukan adalah bahwa menunjukkan pedang yang telah terhunus untuk umat Islam."
Lebih lanjut Ayatullah Khatami menjelaskan, "Amerika Serikat sedang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari Islam ala-Amerika yang digalakkan oleh para penguasa Arab di kawasan."
Ayatullah Khatami mengecam Amerika Serikat dan Arab Saudi dalam pengiriman senjata dan anasir teroris ke Suriah.
"Tujuan dari dukungan tersebut adalah, pembantaian umat Islam di Suriah," tegasya.
Khatib shalat Jumat Tehran juga mengecam berlanjutnya kejahatan rezim al-Khalifa di Bahrain. "Di Bahrain, kelompok minoritas yang berkuasa, mereka menjawab demonstrasi damai warganya dengan peluru, sementera media-massa Barat menutup mata atas kejahatan rezim al-Khalifa."
Terkait pembantaian warga Muslim di Republik Afrika Tengah, Ayatullah Khatami, menyoal sikap lembaga-lembaga internasional terkait masalah tersebut.